Dalam beberapa hari terakhir, media sosial dihebohkan oleh video viral yang membahas tentang sumber air mineral Aqua. Video tersebut mengklaim bahwa air mineral dalam kemasan terkenal itu tidak seluruhnya berasal dari mata air pegunungan alami, melainkan dari sumur bor. Klaim tersebut menimbulkan berbagai reaksi publik, mulai dari rasa kaget, ragu, hingga kritik terhadap perusahaan pengelola, yakni Danone Indonesia.
Menanggapi viralnya isu tersebut, pihak Danone melalui keterangan resmi menegaskan bahwa Aqua tetap bersumber dari mata air alami yang telah melalui proses pemilihan dan verifikasi ketat sesuai standar keamanan pangan nasional dan internasional. Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut bahwa semua lokasi sumber air Aqua berada di area konservasi dan dikelola secara berkelanjutan agar kualitas dan debit air tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Fenomena ini menarik perhatian publik karena Aqua merupakan salah satu merek air mineral tertua dan paling dipercaya di Indonesia. Dengan sejarah panjang sejak 1973, Aqua telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, munculnya isu seputar sumber air mineral Aqua menunjukkan betapa mudahnya misinformasi berkembang di era digital.
Asal-Usul dan Proses Pemilihan Sumber Air Aqua
Sebelum menjadi air kemasan yang dikonsumsi masyarakat, sumber air mineral Aqua melewati proses panjang yang dimulai dari pemilihan mata air alami. Menurut laman resmi Danone dan beberapa referensi ilmiah, Aqua memilih lokasi sumber air berdasarkan tiga kriteria utama: keaslian sumber, kelestarian lingkungan, dan kualitas kandungan mineral alami. Setiap lokasi dievaluasi oleh tim ahli geologi dan hidrologi untuk memastikan air tersebut berasal dari lapisan tanah yang bersih dan terlindung dari polusi.
Setelah sumber air terpilih, dilakukan analisis laboratorium yang mendalam untuk memeriksa komposisi mineral, pH, serta mikrobiologinya. Hanya sumber yang memenuhi standar BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan WHO (World Health Organization) yang dapat digunakan. Inilah mengapa Aqua memiliki karakter rasa yang berbeda-beda tergantung dari lokasi sumbernya — seperti di Brastagi, Mekarsari, dan Pandaan.
Selain itu, perusahaan juga menegaskan bahwa tidak semua pabrik Aqua memiliki sumur bor. Ada beberapa fasilitas yang menggunakan teknologi pengeboran hanya untuk pengujian hidrogeologi atau kebutuhan penelitian, bukan untuk produksi massal. Proses ini pun diawasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta pemerintah daerah setempat.
Fakta dan Misinformasi Seputar Sumber Air Mineral Aqua
Fenomena viral di media sosial tidak jarang berawal dari ketidaktahuan publik akan proses produksi dan distribusi air mineral. Dalam kasus ini, sumber air mineral Aqua disalahartikan karena adanya istilah “sumur bor”. Banyak yang mengira air yang diambil dengan teknik pengeboran berarti tidak berasal dari mata air alami, padahal faktanya tidak demikian. Dalam ilmu geologi, sumur bor kadang digunakan untuk mengakses lapisan air tanah dalam yang berasal dari mata air yang sama, hanya berbeda titik akses.
Klarifikasi dari Danone menyebutkan bahwa semua sumber air yang digunakan Aqua tetap berasal dari mata air alami yang terjaga ekosistemnya. Penggunaan istilah “sumur bor” di beberapa fasilitas hanya bersifat teknis, karena dalam praktik industri, sistem pengambilan air bisa melalui pipa vertikal menuju lapisan mata air bawah tanah tanpa mengubah sifat alami air tersebut.
Kasus viral ini juga membuka diskusi lebih luas tentang transparansi industri air kemasan. Publik menuntut kejelasan tentang asal-usul, keberlanjutan, dan tanggung jawab lingkungan dari setiap merek air mineral. Aqua, sebagai pionir air kemasan di Indonesia, kini menghadapi tantangan untuk memperkuat komunikasi publik agar tidak mudah disalahpahami oleh arus informasi digital yang cepat dan sering kali tidak akurat.
Upaya Aqua Menjaga Keaslian dan Kelestarian Sumber Air
Dalam menjaga keaslian sumber air mineral Aqua, perusahaan telah menjalankan berbagai program konservasi lingkungan sejak awal 2000-an. Salah satunya adalah “Program Pelestarian Daerah Tangkapan Air” yang berfokus pada penghijauan area hulu dan pelatihan masyarakat sekitar sumber air untuk melakukan pengelolaan berkelanjutan.
Aqua juga bekerja sama dengan berbagai lembaga seperti WWF Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan komunitas lokal untuk memastikan keberlangsungan sumber air. Beberapa kegiatan nyata meliputi reboisasi, pembuatan sumur resapan, hingga edukasi lingkungan bagi sekolah-sekolah di sekitar lokasi sumber air. Menurut laporan keberlanjutan Danone 2024, lebih dari 30 juta pohon telah ditanam di sekitar kawasan konservasi sumber air Aqua di seluruh Indonesia.
Kebijakan “Water Stewardship” yang diterapkan oleh Danone Aqua mengharuskan setiap lokasi sumber air untuk dikaji ulang secara periodik oleh auditor independen. Hasilnya menunjukkan bahwa debit air di mayoritas lokasi masih stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan, bahkan di tengah perubahan iklim global.
Tanggapan Pemerintah dan Pakar Lingkungan
Menanggapi polemik ini, Kementerian Perindustrian dan KLHK turut memberikan klarifikasi bahwa setiap industri air minum dalam kemasan (AMDK) wajib memiliki izin sumber air dan izin lingkungan yang ketat. Pemerintah menilai bahwa penggunaan teknologi pengeboran tidak otomatis berarti airnya tidak alami. Justru, teknologi tersebut sering digunakan untuk menjaga kebersihan jalur air agar tidak terkontaminasi permukaan.
Sementara itu, pakar hidrogeologi dari Universitas Indonesia, Dr. Eko Wibisono, menjelaskan bahwa secara ilmiah, mata air alami bisa muncul di permukaan atau berada di bawah tanah. “Yang penting adalah lapisan akuifer tempat air itu berasal. Jika air berasal dari lapisan dalam yang terisolasi dan terlindung, maka tetap bisa disebut sebagai air mineral alami,” jelasnya.
Penjelasan ini memperkuat posisi Aqua sebagai produsen air mineral yang tetap mematuhi standar ilmiah dan peraturan lingkungan di Indonesia. Namun, perusahaan diharapkan meningkatkan transparansi melalui publikasi data sumber air dan hasil audit tahunan untuk menghindari kesalahpahaman di masa mendatang.
Dampak Isu Viral terhadap Citra dan Kepercayaan Publik
Viralnya isu seputar sumber air mineral Aqua tentu berdampak pada persepsi masyarakat terhadap merek ini. Beberapa pengguna media sosial menyatakan keraguan, sementara sebagian lainnya tetap percaya karena reputasi panjang Aqua di pasar Indonesia. Dalam survei online yang dilakukan oleh akun @InfomediaID di platform X (Twitter), 62% responden menyebut masih percaya pada kualitas Aqua setelah klarifikasi resmi dirilis.
Para pakar komunikasi publik menilai bahwa fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi korporasi besar dalam menghadapi krisis informasi di era digital. Transparansi, kecepatan tanggapan, dan konsistensi pesan adalah kunci untuk mempertahankan kepercayaan publik.
Selain itu, isu ini juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan masyarakat. Banyak pengguna media sosial yang langsung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi sumber, sehingga menimbulkan efek domino penyebaran hoaks.
Penutup
Kasus viral tentang sumber air mineral Aqua menunjukkan betapa pentingnya komunikasi terbuka antara perusahaan dan publik. Dalam era digital yang serba cepat, klarifikasi dan edukasi menjadi kunci untuk melawan misinformasi. Aqua, dengan sejarah panjang dan reputasi sebagai pelopor air mineral alami di Indonesia, kini dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat transparansi dan keberlanjutan sumber daya airnya.
Meski sempat menuai kontroversi, klarifikasi resmi dari Danone Indonesia telah menjelaskan bahwa semua produk Aqua tetap bersumber dari mata air alami yang terlindungi dan dikelola secara berkelanjutan. Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyaring informasi dan mendukung upaya pelestarian sumber daya air yang menjadi kebutuhan bersama.