Glamping di Indonesia: Tren Liburan Milenial yang Menggabungkan Alam dan Kemewahan

Glamping di Indonesia

Fenomena glamping di Indonesia kini menjelma jadi gaya liburan baru yang memadukan kemewahan hotel berbintang dengan suasana alami pegunungan atau pantai. Buat generasi muda yang ingin healing tanpa repot, konsep ini jadi solusi ideal: tidur di bawah bintang tapi tetap bisa rebahan di kasur empuk sambil menyeruput kopi panas. Tak heran, tren glamping di Indonesia melesat sejak 2023 dan diprediksi terus naik hingga 2026, didukung geliat pariwisata domestik pascapandemi.

Asal-Usul dan Arti Glamping

Istilah glamping berasal dari gabungan dua kata: glamorous dan camping. Konsepnya lahir di Eropa sekitar tahun 2005, saat wisatawan mulai mencari cara berkemah yang nyaman namun tetap dekat dengan alam.
Di Indonesia, glamping mulai dikenal luas pada 2017 dan mencapai puncak popularitasnya di era pasca-COVID-19 ketika masyarakat haus akan aktivitas luar ruangan tapi ingin tetap menjaga jarak aman.

Menurut Wikipedia (en.wikipedia.org/wiki/Glamping), glamping didefinisikan sebagai bentuk perkemahan mewah yang menyediakan fasilitas dan kenyamanan modern, berbeda dari perkemahan tradisional yang lebih sederhana.

Konsep inilah yang kini diadopsi oleh banyak pengusaha pariwisata Glamping di Indonesia Indonesia — dari Lembang, Bogor, Malang, Bali, hingga Labuan Bajo — sebagai daya tarik wisata baru.

Mengapa Glamping di Indonesia Jadi Tren

Ada beberapa alasan kenapa glamping begitu cepat populer di kalangan anak muda Indonesia.

  1. Kebutuhan “healing” tanpa ribet.
    Generasi milenial dan Gen Z kini mendambakan momen melepaskan stres dari rutinitas urban. Namun mereka tidak ingin kerepotan mendirikan tenda atau membawa logistik berkemah.
    Glamping memberi solusi: cukup booking online, datang, dan nikmati alam dalam kenyamanan maksimal.

  2. Estetika dan media sosial.
    Lokasi glamping umumnya dirancang sangat instagramable — dari interior tenda bohemian, panorama alam terbuka, hingga spot foto di tepi danau. Ini membuat glamping bukan sekadar tempat liburan, tapi juga konten digital.

  3. Konsep ramah lingkungan.
    Banyak penyedia glamping mulai menerapkan konsep eco-friendly: menggunakan energi surya, bahan daur ulang, dan pengelolaan limbah yang lebih baik.
    Hal ini selaras dengan meningkatnya kesadaran milenial terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

Lokasi Glamping Populer di Indonesia

Beberapa destinasi glamping kini menjadi ikon wisata baru:

  • Trizara Resorts, Lembang (Jawa Barat).
    Menawarkan pemandangan gunung, udara sejuk, dan fasilitas layaknya hotel bintang empat.

  • The Highland Park Resort, Bogor.
    Glamping bernuansa Mongolia yang unik dan cocok untuk keluarga.

  • Bobocabin, berbagai lokasi (Malang, Ranca Upas, Toba, Nusa Penida).
    Menggabungkan desain futuristik dengan teknologi smart room.

  • Menjangan Dynasty Resort, Bali.
    Salah satu glamping paling mewah di Indonesia, lengkap dengan kolam renang privat.

  • Leuweung Geledegan Ecolodge, Sukabumi.
    Mengusung konsep glamping ramah lingkungan di tengah hutan tropis.

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), jumlah akomodasi glamping di Indonesia meningkat lebih dari 250% sejak 2021, dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa Barat dan Bali.

Dampak Ekonomi dan Sosial dari Tren Glamping

Glamping bukan cuma gaya hidup, tapi juga berdampak nyata pada ekonomi daerah.

1. Meningkatkan pendapatan lokal.

Penduduk sekitar mendapat peluang kerja baru sebagai staf kebersihan, pemandu wisata, hingga penyedia produk lokal seperti kopi dan kerajinan tangan.

2. Menggerakkan UMKM pariwisata.

Banyak pengusaha kecil kini ikut terlibat dalam rantai pasok glamping, dari penyewaan peralatan outdoor hingga katering lokal.

3. Mendorong konservasi alam.

Konsep glamping umumnya memanfaatkan keindahan alam tanpa eksploitasi besar. Beberapa operator bahkan ikut dalam program penghijauan dan edukasi lingkungan untuk wisatawan.

Namun, sisi lain dari tren ini adalah meningkatnya tekanan terhadap area wisata alami jika tidak dikelola dengan baik. Perlu regulasi agar glamping tidak merusak ekosistem yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Tantangan dalam Pengembangan Glamping

Meski menjanjikan, industri glamping masih menghadapi sejumlah kendala:

  • Akses infrastruktur terbatas. Banyak lokasi glamping potensial berada di daerah terpencil yang belum memiliki jalan dan listrik memadai.

  • Kurangnya standar keamanan dan kualitas. Tidak semua operator glamping memenuhi standar kenyamanan dan keselamatan tamu.

  • Harga yang masih tinggi. Beberapa glamping kelas premium membanderol harga setara hotel bintang lima, sehingga belum sepenuhnya inklusif untuk wisatawan domestik menengah ke bawah.

Solusinya adalah kolaborasi antara pemerintah daerah, investor, dan komunitas lokal untuk menciptakan glamping yang berkelanjutan dan terjangkau.

Prospek Masa Depan Glamping di Indonesia

Pakar pariwisata memperkirakan bahwa glamping di Indonesia akan terus tumbuh hingga 2030 seiring meningkatnya minat wisata alam dan digital nomad.
Kemenparekraf bahkan memasukkan glamping sebagai bagian dari strategi pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism).

Selain itu, muncul tren baru seperti eco-glamping, glamping digital detox, dan glamping budaya yang menggabungkan kenyamanan modern dengan aktivitas lokal seperti menenun, berkebun, atau kuliner tradisional.

Beberapa startup pariwisata juga mulai mengembangkan aplikasi booking glamping khusus, yang memungkinkan wisatawan membandingkan harga, fasilitas, dan rating seperti layaknya hotel.

Penutup

Glamping di Indonesia bukan sekadar tren musiman — ia adalah transformasi cara masyarakat menikmati alam. Generasi muda ingin kembali ke alam tanpa meninggalkan kenyamanan, dan glamping menjawab kebutuhan itu dengan sempurna.
Dengan pengelolaan yang bijak, tren ini bisa menjadi masa depan pariwisata hijau yang inklusif dan berkelanjutan di tanah air.

Kesimpulan

  • Glamping di Indonesia tumbuh pesat karena menawarkan keseimbangan antara alam dan kemewahan.

  • Memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal dan sektor pariwisata.

  • Perlu pengawasan agar keberlanjutan lingkungan tetap terjaga.

Rekomendasi Praktis

  • Wisatawan: pilih lokasi glamping yang ramah lingkungan dan mendukung ekonomi lokal.

  • Pemerintah: bantu regulasi dan promosi glamping berkelanjutan.

  • Pelaku usaha: inovasi fasilitas tanpa merusak keaslian alam.


Referensi: